Tag: Pulau

Menyingkap Kisah Perjalanan Mahasiswa PMM UNJA ke Pulau Ternate, Tidore, Bacan, dan Halmahera

MALUKU,- Tim monitoring Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) dari Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jambi (UNJA) secara serentak melakukan monitoring mahasiswa UNJA yang melakukan MBKM PMM ke beberapa kampus di Indonesia.

Tahun 2023 sendiri tercatat sebanyak 525 mahasiswa UNJA menjadi mahasiswa outbound program PMM angkatan 3 yang dikirim ke 78 PTN dan PTS yang tersebar di seluruh pulau di Indonesia.

Salah satu pulau yang menjadi tujuan PMM mahasiswa UNJA adalah Pulau Maluku. Di pulau ini mahasiswa UNJA berkuliah di 2 kampus ternama, yaitu Universitas Pattimura (UNPATTI) di Kota Ambon, Provinsi Maluku dan Universitas Khairun (UNKHAIR) di Kota Ternate Provinsi Maluku Utara.

Tim LP3M yang melakukan monitoring di 2 kampus ini adalah Sekretaris LP3M, Ir. Yulia Morsa Stated Rambe, M.T. dan Korpus HUMAS UNJA, Mochammad Farisi, S.H. LL.M. Kegiatan monitoring dilakukan mulai tanggal 26-30 November 2023.

Tim berkunjung ke UNPATTI Kota Ambon terlebih dahulu dan dilanjutkan ke Universitas Khairun Ternate Maluku Utara. Dalam kunjungan ke Ternate, tim LP3M UNJA disambut oleh dekan FKIP UNKHAIR, Prof. Dr. Abdu Mas’ud, S.Pd., M.Pd., Ketua Jurusan, Ketua Prodi, dan Dosen Modul Nusantara serta 10 mahasiswa UNJA PMM. Tim mendiskusikan praktek baik dan dinamika MBKM di kedua kampus.

Dekan FKIP dalam diskusi menjelaskan bahwa UNKHAIR sangat mendukung 8 kegiatan MBKM khususnya program asistensi mengajar, terkait PMM sangat senang bisa menerima 10 mahasiswa dari UNJA, semoga mendapat banyak pengalaman akademik dan juga modul Nusantara menikmati ragam, adat istiadat budaya di Maluku Utara sebagai Negeri Seribu Pulau.

Kemudian diskusi dilanjutkan dengan pesan dan kesan mahasiswa UNJA selama di Ternate. Latifah Saifuri asal Prodi Teknologi Hasil Pertanian (THP) menceritakan kisahnya selama 3 bulan di ternate, banyak pengalaman menarik dan berkesan terkhusus setiap weekend karena Modul Nusantara.

“Pengalaman mengesankan dimulai dari kunjungan ke Pulau Tidore untuk melihat Kesultanan Tidore, Pulau Hiri untuk melihat pertunjukan Barama Suwen (permainan bambu gila), jika ingin melihat sundown paling bagus ada di Pantai Kastela, dan masih banyak lagi. Di samping pengalaman, selama di sini sangat dimanjakan oleh pemandangan bagus, masyarakat yang sangat welcome, dan rasa aman. Berada di Ternate untuk pertama kalinya pasti akan merasakan tradition shock, mulai dari bahasa, penunjuk arah yang bukan Barat/Timur, tapi Dara/Lao, makan pisang pakai sambal, krupuk ubi pakai gula merah, papeda,” ujarnya.

Syafira Amelia dari Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi juga berkesan selama di Ternate.

“Saat ini saya tengah menjalani program pertukaran mahasiswa batch 3 di universitas khairun dimana saya menggali pendidikan dan kehidupan ditanah maluku utara, kota ternate yang begitu indah dan kaya akan keberagaman alamnya,” tuturnya.

“Sejak tiba di Ternate 31 Agustus 2023 saya percaya bahwa perjalanan ini memberikan saya lebih dari sekedar pengetahuan akademis. Saya memperoleh wawasan kebangsaan yang luar biasa. Dimana hidup dilingkungan yang baru tentunya membawa tantangan, dimulai dari harga kebutuhan sehari-hari yang sangat mahal sehingga memerlukan manajemen keuangan yang baik. Dan saya  juga beradaptasi dengan cuaca panas di Ternate yang tak terelakkan membuat saya sulit beraktivitas siang hari di luar,” lanjutnya.

“Namun, semua perjuangan itu menjadi sepele ketika modul nusantara, suatu pengalaman unik, muncul dalam perjalanan saya. Modul Nusantara, yang menjadi fokus utama perjalanan saya, dirancang untuk menciptakan pemahaman komprehensif tentang keberagaman, inspirasi, refleksi, dan kontribusi sosial. Telah menjelajahi Ternate, menemukan kebudayaan dan kehidupan yang unik. Dimana saya berkunjung ke Ppulau Tidore, untuk melihat Kesultanan Tidore dan competition Kampung Nelayan Tomalau, dan saya berkunjung ke Kesultanan Ternate, tempat beribadah, serta berkunjung kesebuah desa yang terletak di Tabanga dimana mayoritas nonmuslim dan setelah itu saya berkunjung ke wisata Batu Angus, tolire Besar, dan juga Pantai Jikomolamo untuk berenang dan naik banana boot, dan mengunjungi tempat untuk praktek memasak makanan khas Ternate yaitu Papeda,” ujarnya.

“Tak hanya itu saya juga diajarkan joget khas Ternate yaitu 100 juta, berkunjung ke Pantai Pasir Putih Masirette Sulamadaha untuk pertunjukan Barama Suwen atau dikenal dengan permainan bambu gila, dan Pulau Hiri juga merupakan pulau yang indah, dimana wisata yang terkenal disana itu Batu Lobang dan Telaga Biru, serta homestay yang view langsungnya Gunung Gamalama, dan jika ingin melihat sundown yang indah itu ada di Pulau Maitara dan Kastela. Pemandangan alam yang indah membuat kita nyaman berada di Ternate,” ceritanya.

“Pesannya jangan takut untuk mencoba hal-hal baru dan keluar dari zona nyamanmu, dan terbuka terhadap perbedaan budaya dan cara berpikir yang berbeda, jangan takut untuk bertanya dan meminta bantuan, nikmati setiap proses dan belajar dari setiap pengalaman. Setiap pertemuan adalah kesempatan untuk belajar, saya bertemu dengan orang-orang luar biasa dari berbagai budaya dan latar belakang, dan itu mengajarkan saya bahwa persahabatan dan pemahaman lintas budaya ialah kunci untuk membangun dunia yang lebih baik,” pungkas Syafira.

Farhan Alfarisi dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, dengan semangat juga bercerita.

“3 bulan di Ternate sangat menyenangkan dan menakjubkan karena di sini saya dapat mengeksplorasi tempat-tempat wisata yang unik dan indah. Di samping Modul Nusantara yang dilaksanakan setiap minggu, saya juga suka mengeksplor Ternate dengan biaya pribadi, terutama pergi ‘Batobo’ (mandi) yang rasanya ingin dilaksanakan setiap hari. Biasanya saya pergi berenang dan diving di Jikomalamo atau Sulamadaha. Namun kegiatan yang sangat berkesan bagi saya yaitu ketika kami keluar pulau menuju Halmahera Barat yaitu bertepatan dengan daerah Jailolo. Disana, kami berkunjung ke tempat Kesultanan Jailolo yang dimana itu adalah salah satu dari empat kesultanan yang ada di Maluku Utara. Lalu, kami menginap di Resort Rappa Pelangi dan menikmati pemandangan yang menakjubkan. Selama disini saya juga banyak mengalami tradition shock, mulai dari bahasa, makanan, cuaca, pertunjukkan, dll. Namun hal itu menunjukkan kalau Indonesia itu beragam,” ceritanya.

Untuk mahasiswa UNJA, jangan ragu untuk mencoba hal-hal baru, ayo ikut program PMM yang membantu kita memperoleh pengalaman baru. PMM itu asyik dan bisa mengetahui keragaman budaya Indonesia. PMM, Bertukar Sementara, Bermakna Selamanya.

M. Farisi / Dimas Anugrah Adiyadmo / HUMAS


Put up Views: 156


Kunjungi Pulau Pasaran, 2 Profesor Asal Jepang Terkesan Dengan Progam Pengolahan Sampah

Bandar Lampung – Dalam rangkaian Simposium Internasional yang diadakan SDGs Heart Universitas Bandar Lampung bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) dan Magister Teknik UBL bertema “Sustainable and Resilient Coastal Society” mengadakan kegiatan Eco-Eduwisata dengan masyarakat pesisir Pulau Pasaran Kota Karang, Bandar Lampung, Sabtu, 26/8/2023.

Kegiatan tersebut berkolaborasi juga dengan Yayasan Inovasi Sosial Berkelanjutan atau lebih dikenal dengan Gajahlah Kebersihan. Turut serta Prof. Hiroyuki Miyake dan Prof. Fumitoshi Murae dari Universitas Kitakyushu, Jepang dalam kegiatan tersebut.

Dalam kegiatan di pulau pasaran tersebut diawali dengan mengunjungi Rumah Inovasi Daur Ulang (RINDU) yang dikelola oleh tim Gajahlah Kebersihan. RINDU merupakan tempat pengelolaan sampah dari kawasan pesisir Kota Bandar Lampung khususnya di Pulau Pasaran yang memproduksi Eco-Roaster yang mengandung 30% sampah plastik dan budidaya Maggot dari sampah organik. Kegiatan dilanjutkan dengan berkunjung ke komunitas Sea Mama yang merupakan komunitas ibu rumah tangga di kawasan pesisir Pulau Pasaran yang membuat kerajinan produk daur ulang dari sampah plastik yang menghasilkan produk bernilai.

Kegiatan Eco-Eduwisata tersebut sangat berkesan bagi Prof. Hiroyuki Miyake dan Prof. Fumitoshi Murae. “Saya sangat senang bisa berkunjung ke pulau Pasaran ini. Saya bangga dengan anak muda yang peduli dengan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Saya sangat tertarik dengan pengolahan sampah plastik dan sampah organik yang dilakukan disini. Selain itu komunitas ibu-ibu Sea Mama yang sangat kreatif dalam membuat kerajinan dari sampah kemasan plastik menjadi tas, topi dan lain-lain,” ungkapnya.

Kegiatan yang dilakukan oleh RINDU sejalan dengan tema Simposium Internasional yang diselenggarakan SDGs Heart UBL yaitu “Sustainable and Resilient Coastal Society” dalam pemberdayaan masyarakat pesisir di pulau pasaran yang berkelanjutan. Selain itu juga sesuai dengan tujuan SDGs khususnya dalam Tujuan 2 Tanpa Kelaparan, Tujuan 13 Penanganan Perubahan Iklim dan Tujuan 14 Ekosistem Laut.